Santri Sejati

Ketika Santri Menulis, Nampak Gemuruh Ruh di Laut

DI KUTIP OLEH CERITA NYATA DARI SEORANG SANTRI

Terjangan ombak selalu menghantam batuan karang samudra, sekali menghantam bagai tamparan hati yang menggendong sebongkah bongkahan serpihan spirit jiwa, jiwa ini melayang berputar melawan arah rotasi bumi tanpa wujud perkelahian.

Aku bertanya tak kepada diriku sendiri, pertanyaan ku memenuhi isi alam. Saat ku tanya kepada pasir di laut, saat aku bertanya kepada ombak yang hidup meghiasi suara gemuruhan ruh dilaut, saat ku bertanya kepada panasnya terik matahari!

“Apa yang harus aku lakukan? Haruskah diriku pergi meninggalkan bendera Kebanggaan di tengah pertempuran? Haruskah diriku patahkan semangat yang sudah mengejolakan hati?…” (aku tersenggak-senggak oleh tangis geteguhan hatiku yang menusuk hingga menggigilkan ujung jemari) namun apa kata daya? Mereka semua membisu, mereka semua Aku sudah aku, aku cukup aku, leher kebanggaan ku  tidak perlu kau goreskan pisau setajam pisau kemarin.

Aku tak bisa berkutik sekalipun, aku tidak bisa menahan panasnya awan hitam di kegelapan bumi cintaku. Sudah cukup kau peras hati ini jadikan kering keriput, aku hanyalah aku yang tidak bisa mengutik fenomena keindahan hidupku karena kau. Aku hanya bisa memaparka pertanyaan ku, namun tidak ada kicauan nada indah sekalipun yang menjawab pertanyaan dariku (teganya dirimu).

Ke esokan hari jika kau sudah lelah mencela, memaki, memeras hati ini hingga hati ini kering keriput, ingatlah hari ini,kering keriputnya hati inilah yang akan mejadi saksi dalam perkelahian kita. Aku adalah aku, engkau tidak perlu melirikan sorotan matamu ke bendera kebangaanku jika kau menyimpan kenegatifan dari hidupku, namun jika kau teman yang baik cukup kau tebarkan kepositifan hidupku ke alam jagad raya. Dan engkau pecinta negatif  ingatlah kepada semanggatku yang tidak akan runtuh sekalipun walaupun kamu, dia, mereka menggunjing, menghantam tamparan angin malam ketika aku tersip (aku akan tetap berdiri di atas jembatan alas saka duri).

Facebook Comments

6 thoughts on “Ketika Santri Menulis, Nampak Gemuruh Ruh di Laut

    1. hehe ini maksud ku…..
      dan semuanya mksih dah ngobatin leres nya nyong iki………. smpai2x cakraku kmbali seperti dulu, bahkan lebih kuat..
      keep spirit!

  1. hmm…
    pemahamanku sih bahwa dirimu sedang berjuang ya….
    tapi aku juga bingung sama tulian di atas…
    seakan2 kamu ntu marah sama seseorang..
    btw maksudnya pa cie???…
    hhe..
    Msklum akukan bkan orang yang kritis..

    1. hehe bysa aja aku nga berjuang,
      aku lagi ingn menciptkan langkah awal untk mengukir keindahan didlam hidup nyong
      namun apa kata daya semua menertawan dan bahkan merehmekan ku pa yang sdah aku lkukan…
      tp dia dia merasa tak bersalah

  2. Duh, ini orang lagi ditolak pacar apa lagi dijauhin temen ea?
    Sabar ya, yang namanya kehidupan ya kayak gitu. ada warna warninya. kl ga ada warna warninya ntar jd ga indah 🙂

    1. yaya aku jadi kan ntu variasi di dalam hdup ku kuok!!
      tapi aku ng sabar dg orang2 yang sudah mnertawkn ku di dalam bumi cintaku.
      aku ingn dia dia jatuh menatap hitamnya langit diterjang oleh terjangan ombak samudra.

Comments are closed.