Santri Sejati

Pesantren Butuh Pemerhati yang Kuat dan Cerdas

POLISI_LALU_LINTAS_by_herpriBila mana menunggu datangnya pahlawan untuk merubah suatu peradaban yang rusak? tidak lain, siaplah bersegera menghadapai keterlambatan.

Atau kita sendiri tidak pede? sebagai generasi muda Indonesia yang sudah diimpikan oleh para pahlawan yang gugur di medan perang setengah abad yang lalu? Miris sudah.

Pesantren butuh pemerhati yang kuat dan cerdas,

Bertambah tahun peradaban mesti mengalami perubahan, tidak lain di sebabkan oleh komponen yang ada di dalam itu sendiri. Karena tidak ada pemerhati sehingga segala hal baru, entah itu baik atau buruk, tidak ada yang mendukung dan menyangkalnya.

Sudah banyak santri yang ingin mencoba sebagai pemerhati peradaban, karena melihat komponen yang semakin bertambah hari semakin kolot. Kendalanya, kembali pada lingkungan, bisa jadi karena tidak ada ketegasan dan keteguhan pada peraturan yang sudah ada.

Parah, kita kaum islam tetapi tidak tahu peraturan-peraturan yang ada pada islam itu sendiri, mungkin tahu tetapi mengganggap itu remeh.

Seperti membuang sampah pada tempatnya saja sangat sulit, berjalan ke masjid langkahnya tidak beda dengan gerakan suster ngengsot, di kamar mandi bergurau hebat, saat pengajian membuat kegaduhan, tidak jarang hal-hal yang nyeleneh jadi tuntunan, jam pengajian kelas tidak mau datang sebelum ustadznya rawuh, dan masih banyak lain.

Hal yang perlu dijadikan bahan observasi atau penelitian, kenapa semua itu terjadi?, sekilas jawabanya “Karena kebanyakan jajan”. Padahal demikian dipandang sekilas tidak ada kaitanya, akan tetapi? sesuai dengan kenyataan iya seperti itu.

Setelah si A jajan, sampahnya tidak dibuang pada tempatnya, sayangnya yang sembarangan tidak satu atau sepuluh akantetapi bisa dibilang semuanya.demikian menyebabkan sampah menumpuk, sudah diketahui kalau tempat kotor itu banyak setanya atau dedemit yang hobi menggoda manusia untuk berbuat yang tidak-tidak. Jelas sudah.

Kembali pada “Pesantren butuh pemerhati yang kuat dan cerdas”.

Pemerhati bukan berarti polisi, pemerhati berarti siap jadi lensa kehidupan, mampu menerima shot yang indah atau keji seperti water closed sekalipun, yang nantinya dapat diedit pada aplikasi seperti photosop atau corel, ngedit mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang masih gelap untuk diterangkan.

Yang Kuat, kuat segala-galanya asal pada tempatnya. Menumbuhkan generasi yang kuat jasmanitentunya dengan olah raga, menguatkan kerohanian dengan ..?. ini yang perlu kita benahi bersama-sama. Kerohanian mencangkup kejiwaan; yang tidak mudah untuk ditumbuhkan pada diri sendiri apalagi orang lain. Akantetapi, ingat sob! tidak ada sesuatu yang sulit cukup bermodal kemauan dan kesungguhan. Mari bersama membangun jiwa, pesantren, desa, kota profinsi dan indonesia. ^-^

Yang cerdas, mampu mengatur persoalan dan permasalahan dengan baik dan bijak. Kecerdasan yang bermanfaat, kecerdasan berbeda dengan kepintaran; setelah mendapatkan S 2 lalu duduk di bangku istimewa mereka dapat melupakan apa yang seharusnya mereka lakukan, bahkan mereka jadi parasit rakyat. Tentunya setelah cerdas mereka mengajarkan kecerdasanya kepada para generasi muda dengan cara yang cerdas pula.

Ada kaitanya dengan organisasi, organisasi di pesantren sangat minim SDM berbeda dengan SDM di sekolah-sekolah wow SDM nya banjir, entah faktor apa? ini yang perlu kita jawab bersama-sama yah.Tidak lain, pasti setiaap organisasi mempunyai keinginan agar lingkungan sekitar mendapat efek yang baik atas adanya organisasi tersebut kan?.

Sebagai generasi muda, mari kita relakan sebagian tenaga dan pikiran kita untuk membantu pesantren agar bertambah baik, peradabannya, pendidikanya, dan lainya. Katanya pesantren benteng akhirnya agama? yang dapat mencetak generasi yang tafaqquh fiddin dan produktif, keilmuan dan penerapanya.

 

 

4 thoughts on “Pesantren Butuh Pemerhati yang Kuat dan Cerdas

Comments are closed.